Senin, 12 Mei 2025, jam 09.30 dihalaman yang tidak begitu luas, delapan ibu-ibu berkebaya dan berkerudung, memainkan lesung, sebuah alat penumbuk padi, terbuat dari kayu jati yang sudah lapuk, tetapi masih mampu menyuarakan kejernihan, ketika ditabuh dengan alu menimbulkan suara bertalu-talu. Lesung dan alu dimainkan bersama, namun bergantian dari dahulu sampai sekarang masih memiliki suara khas musik kampung yang merdu. Ibu-ibu menampilkan lagu-lagu pujian Jawa diselang seling dengan pembacaan geguritan dan macapatan serta sholawatan. Sajian kothekan lesung tersebut, ditampilkan sebagai selingan dan sambil menunggu tamu undangan berdatangan. Tetabuhan lesung oleh ibu-ibu yang tergabung dalam jamaah pengajian Maskumambang Mujahadah tersebut, sebagai penyela waktu dalam event pameran seni rupa Omah#3 yang diselenggarakan komunitas Pintu Mati Surakarta dan Rumah Langit Kebu Bumi, milik Fadjar Sutardi, seorang perupa yang sudah lama menggeluti musik rebana Jawa berdiri tahun 2000-an.
Pameran seni rupa, yang diselenggarakan antara bulan Mei dan Juni,sudah tiga kali dilakukan di kampung Clupak RT.25 Mojopuro, Sumberlawang Sragen. pameran kali ini diikuti 30 perupa dari berbagai kota, seperti dari Semarang, Pasuruan, Trenggalek, Magetan, Pacitan, Karanganyar, Surakarta, Yogyakarta, Boyolali, Pati dan Sragen. Para perupa dengan antusias mengirimkan karya lukisan dan patung. Nama-nama seperti Prof.Drs.Tulus Warsito, M.Si, guru besar UMY, Dr.Drs. Hajar Pamadhi, M.A, Hons, guru besar pengkajian seni rupa dan pertunjukan UGM, Dr. Rispul Rasyidin, dosen ISI Yogyakarta, Dr.Eko Haryanto, M.Ds, dosen pendidikan seni rupa UNES,Dr.Nanang Yulianto, M.Ds. dosen pendidikan seni rupa FKIP UNS, Dr.Endang S,Handayani, dosen pendidikan seni rupa FKIP UNS, Bonyong Munniardhie,tokoh gerakan seni rupa baru, Dra.MYE Ning Yuliastuti, M.Pd. dosen pendidikan seni rupa FKIP UNS, Umar Farq, Barata Sena, peraih platinum kompetisi desain craft internasional di Jepang dan Canada, Amerika Serikat, Kartono Panjawi, Achmad Dardiri, Bambang Heras, Astuti Kusumo dan beberapa perupa nasional ikut mewarnai peristiwa pameran kali ini.
Keragaman karya pun ditampilkan; lukisan kaligrafi, dekoratif, pemandangan, wayang beber kontemporer, patung kerajinan dan patung bahan metal dan seni instalasi digelar memenuhi ruang pameran rumah limasan berukuran 9 x 12 m. Pameran dibuka dengan membaca surah al-fatihah, dilanjutkan dengan melantunkan irama kothekan lesung Jawa, asuhan Suyatno dan Suprapto terdengar merdu sebagai hiburan bagi suasana space pameran. Sambutan demi sambutan dalam acara pembukaan disampaikan Fadjar Sutardi, pengantar pameran disampaikan olehDr. Hajar Pamadhi, dilanjutkan kata sambutan Bonyong Munniardi, Prof. Dr. Narsen Afatara dan diresmikan dengan memukul gong lima kali, oleh Drs.I.Yusep Wahyudi, M.Si. Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sragen dalam kesempatan tersebut, Yusep mengapresiasi pameran Omah#3 berlangsung di Rumah Langit Kebun Bumi, sebuah ruang budaya yang lengkap, yakni sebagai ruang latihan teater, macapatan, rebana Jawa, perpustakaan dan arsip pribadi dan ruang untuk pameran seni rupa. Dengan harapan, rumah ini dapat dijadikan sirkel kebudayaan dengan daerah lain sekitar Sragen, seperti yang dilakukan para peserta yang berasal dari berbagai daerah.
Setelah para tamu menyaksikan pameran seni rupa dispace pameran. Sambil melihat-lihat karya rupa yang disajikan, sebagian pengunjung dan tamu, dapat menikmati makan siang sambal tumpang snack kampung dan minuman ringan yang disediakan team dapur papin, seperti wedang teh, jahe, kopi dengan es batunya. Pembukan pameran selesai menjelang sholat Asar. Setelahnya kemudian berpamitan kerumah asal masing-masing, dengan tidak lupa berfoto ria dan selfie yang cukup akrab dan menggembirakan. Pameran berlangsung dari 12 Mei – 18 Mei 2025. Demikian kabar-kabar dari tim panitia Omah#3.