Antre Haji Berpuluh Tahun Dijalani, Tapi Kepatuhan Zakat Indonesia Masih Minim

Safari zakat Ramadhan

SRAGEN – Masyarakat Indonesia lebih memilih mengantre haji berpuluh tahun daripada menunaikan zakat yang hanya memiliki tingkat kepatuhan 1 persen menurut data Balitbang Kemenag RI. Fenomena ironis ini mendorong Lazismu Sragen memperkuat dakwah struktural melalui Safari Zakat demi meningkatkan kesejahteraan sosial.

Data Balitbang Kemenag RI tahun 2016 menunjukkan anomali besar dalam perilaku ibadah masyarakat Indonesia. Meskipun mayoritas muslim taat menjalankan puasa dengan tingkat kepatuhan 60 persen, angka kepatuhan zakat justru terpuruk di level 1 persen.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan antusiasme ibadah haji yang mencapai 5 persen, meskipun membutuhkan biaya besar dan antrean puluhan tahun. Padahal, zakat merupakan rukun Islam ketiga yang secara urutan seharusnya menjadi prioritas sebelum berhaji.

“Kebanyakan orang rela keluar uang mencapai miliaran untuk rukun Islam kelima, namun di sisi lain mereka lupa dengan rukun Islam ketiga secara teoritisnya,” tegas Ikhwanmusoffa, Wakil Badan Pengurus Lazismu Wilayah Jawa Tengah.

Safari Zakat Ramadhan

Pentingnya Literasi dan Urutan Ibadah

Minimnya kepatuhan zakat ini diduga kuat berpangkal pada rendahnya literasi masyarakat. Banyak warga menganggap urusan zakat sudah selesai hanya dengan zakat fitrah, padahal terdapat kewajiban Zakat Maal yang sering terabaikan.

Oleh karena itu, Lazismu Jawa Tengah menggencarkan program Safari Zakat Ramadhan di berbagai kabupaten dan kota. Langkah masif ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar kembali menempatkan zakat sebagai bagian utama dari gaya hidup religius mereka.

Manager Lazismu Sragen, Rizki Arif, menekankan bahwa zakat sebenarnya jauh lebih mudah daripada haji. “Zakat itu tidak antre dan sebenarnya mudah karena hanya mengeluarkan sebagian kecil harta yang tidak lebih dari uang jajan kita,” ungkap Rizki, Manager Lazismu Sragen saat ini.

Safari zakat ramadhan

Tantangan Eksekusi dan Peran Dai

Pihak Lazismu kini menghadapi tantangan besar dalam memastikan edukasi ini berujung pada aksi nyata. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada bagaimana para pengurus dan dai mengimplementasikan materi tersebut di lapangan.

Ikhwanmusoffa menyarankan perubahan pola pendidikan agama sejak dini agar rukun Islam terlaksana secara berurutan. Menurutnya, anak-anak seharusnya diajarkan untuk berbagi dan bersedekah segera setelah mereka belajar shalat.

“Mestinya anak-anak dididik shalat, setelah itu diajak berbagi atau sedekah, bukan sekadar diajari manasik haji,” tambah Ikhwanmusoffa, Wakil Badan Pengurus Lazismu Wilayah Jawa Tengah. Melalui penguatan transparansi dan akuntabilitas, lembaga amil zakat berharap masyarakat semakin percaya untuk menyalurkan kewajibannya guna menyejahterakan umat.

Baca Juga:

Zakat Penghasilan atau Zakat Profesi Wajib? Berikut Penjelasan Muhammadiyah!

Ketentuan Zakat Fitri Menurut Pandangan Muhammadiyah

Sulurkan zakat sobat melalui LAZISMU SRAGEN

Bagikan Kepada Teman

Facebook
WhatsApp
Twitter