Muhammadiyah dan Pemkab Sragen Berhasil Selesikan Pembebasan 11 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Wujud Nyata Sinergi Pengentasan Kemiskinan

foto rtlh

Sinergi antara Muhammadiyah dan Pemerintah Kabupaten Sragen kembali menunjukkan hasil nyata dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui program pembebasan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Melalui kolaborasi tersebut,  berhasil selesikan pembebasan 11 Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dengan total anggaran Rp111 juta yang bersumber dari infak, sedekah, dan zakat masyarakat.

Program ini menjadi bagian dari dukungan Muhammadiyah terhadap agenda pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kemiskinan tidak hanya diukur dari aspek pendapatan, tetapi juga dari kelayakan tempat tinggal. Di lapangan, masih ditemukan warga yang menghuni rumah tanpa jamban, beratap tidak layak, bahkan berlantai tanah.

foto rtlh

Kegiatan gotong royong terbaru dilaksanakan di kediaman Bapak Wisnu Putra, Mageru RT 02, Sragen Tengah, Senin (16/02/2026). Pemasangan genteng dilakukan secara bersama-sama oleh unsur Muhammadiyah, Kelurahan Sragen Tengah, Kecamatan Sragen, Pemerintah Daerah, Dinas Sosial, RT/RW, serta masyarakat setempat.

Peran penting dalam program ini dijalankan oleh Lazismu Sragen yang bertindak sebagai koordinator kegiatan. Selain itu, sejumlah organisasi otonom turut terlibat aktif, seperti Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Tapak Suci, Hizbul Wathan, PDNA Sragen, MDMC, serta unsur Angkatan Muda Muhammadiyah lainnya. Keterlibatan berbagai elemen tersebut memperkuat semangat gotong royong sebagai ciri khas gerakan sosial Muhammadiyah.

Di sisi lain, tantangan penuntasan RTLH di Sragen masih cukup besar. Berdasarkan data awal 2025, terdapat 26.943 unit RTLH. Hingga memasuki 2026, baru 1.936 unit yang berhasil ditangani, sehingga masih tersisa 25.007 unit. Dengan rata-rata penanganan sekitar 2.000 unit per tahun, dibutuhkan waktu lebih dari 12 tahun untuk menyelesaikan seluruhnya.

foto rtlh

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci percepatan. Keterbatasan APBD serta kebutuhan dukungan dari pemerintah pusat dan provinsi menuntut peran aktif masyarakat sipil. Dalam konteks inilah kontribusi Muhammadiyah melalui Lazismu Sragen menjadi energi penting.

Bukan sekadar bantuan simbolis, alokasi dana Rp111 juta untuk 11 rumah menjadi bukti konkret bahwa gerakan dakwah Muhammadiyah hadir dalam aksi sosial yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Jika pola kolaborasi dan gotong royong ini terus diperluas, percepatan penuntasan RTLH di Sragen berpeluang semakin menemukan momentumnya, dengan Muhammadiyah dan Lazismu Sragen sebagai salah satu motor penggerak perubahan sosial.

Baca Juga : Bertahun-tahun Atap Bocor, Rumah Warga Sragen Akhirnya Digentengisasi Lazismu

Bagikan Kepada Teman

Facebook
WhatsApp
Twitter