DENPASAR – Panitia program Rendangmu Lazismu berhasil menghimpun dana masyarakat sebesar Rp10 miliar guna memproses 487 ekor sapi kurban, dam, dan infak di Bali. Langkah besar ini menjadi bagian dari strategi digitalisasi logistik kurban nasional yang berpusat di wilayah Jawa Tengah.
Program Rendangmu Lazismu pada tahun ini berhasil menghimpun dana publik yang fantastis mencapai kurang lebih Rp10 miliar. Secara keseluruhan, panitia menyembelih total 487 ekor sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Bali. Jumlah tersebut mencakup sapi kurban, dam, serta infak dari para mudhohi.
Selanjutnya, pengelola memusatkan seluruh rantai pasok tersebut melalui koordinasi wilayah Jawa Tengah. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengonsolidasikan seluruh shohibul kurban secara terintegrasi. Oleh karena itu, manajemen dapat memproyeksikan kebutuhan hewan ternak secara akurat dan efisien.
Jaminan Syariat dan Inovasi Kurban Kaleng
Selain mencatat perputaran dana yang masif, panitia juga menerapkan standarisasi syariah yang sangat ketat. Petugas memeriksa kondisi fisik dan kesehatan satwa secara langsung sebelum proses penyembelihan. Setelah lolos kualifikasi, hewan tersebut akan mendapatkan sertifikat resmi sehat dan layak kurban.
Menariknya, pengelola menerapkan inovasi baru berupa pemasangan penutup kepala pada sapi. “Pemasangan penutup kepala sapi ini merupakan bentuk inovasi dari tahun sebelumnya sesuai dengan saran DPS Jateng dan pengawas syariah,” ujar perwakilan panitia dalam wawancara tertulis mengenai proses kurban Rendangmu Lazismu di Bali.
Kemudian, tim jagal membacakan doa serta nama shohibul kurban satu per satu saat melakukan penyembelihan. Setelah itu, petugas menggantung sapi menggunakan katrol selama sekitar lima menit agar darah mengalir tuntas. Langkah penanganan ini menjadi kunci utama untuk memastikan syarat sah syariat bahwa hewan telah mati sempurna.
Proses Higienis Berstandar MUI dan ISO
Setelah proses pengulitan selesai, panitia hanya mengambil bagian daging saja untuk bahan baku. Sebaliknya, mereka mengonversi bagian kulit dan jeroan menjadi nilai infak. Melalui metode cepat, daging bersih harus sudah masuk ke dalam cold storage dalam waktu kurang dari dua jam.
“Jarak ke cold storage hanya sekitar 10 menit, di sana langsung dibekukan atau di-blasting atau proses pembekuan selama 16–18 jam dalam suhu minus 40 derajat,” kata perwakilan panitia menegaskan komitmen higienitas. Setelah membeku, daging akan melewati fase resting di dalam chiller.
Akhirnya, armada logistik mengirimkan pasokan beku tersebut ke pabrik Pronas selaku mitra pengalengan. Perusahaan tersebut mengemban tanggung jawab produksi karena reputasinya yang besar dan tepercaya. Selain itu, produk akhir kurban rendang kaleng ini telah mengantongi jaminan mutu resmi dari MUI dan sertifikasi ISO.
Target Rampung Akhir Juni
Meskipun membutuhkan proses yang panjang, manajemen Lazismu Jawa Tengah menunjukkan progres kerja yang sangat impresif. Pada dua minggu setelah hari raya (H+2 minggu), proses produksi massal terbukti berjalan sangat cepat.
“Tahun ini H+2 minggu kurang lebih 50% dari total sapi yang disembelih sudah jadi,” ucap perwakilan panitia optimis mengenai kelancaran target distribusi.
Pada akhirnya, tim produksi memproyeksikan seluruh kemasan siap saji tersebut akan rampung total dalam waktu maksimal dua bulan. Pengelola menargetkan 100% daging olahan selesai diproduksi pada akhir Juni mendatang. Dengan demikian, dana kurban Lazismu yang bernilai miliaran rupiah ini dapat segera tersalurkan dalam bentuk pangan bergizi tinggi kepada masyarakat luas.
Baca juga:
Manfaat Dam Haji di Tanah Air: Jemaah Sragen Alihkan Sembelihan ke Indonesia demi Atasi Kemiskinan
Tembus Rp 9 Miliar, Kurban Muhammadiyah Jateng Diubah Jadi Rendangmu