SRAGEN – Lazismu Sragen merombak sistem pelaporan program zakat, infak, dan sedekah dengan berfokus pada dampak ekonomi nyata bagi masyarakat penerima manfaat. Kebijakan akuntabilitas ini ditegaskan dalam rapat evaluasi kinerja lembaga di Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (22/8/2026).
Langkah strategis ini dilakukan melalui evaluasi kinerja berkala yang bermutu dan berkelanjutan. Lazismu Sragen mendorong seluruh amil untuk tidak lagi sekadar berfokus pada target nominal angka penghimpunan. Sebaliknya, lembaga filantropi ini mewajibkan setiap program pembangunannya berorientasi pada hasil nyata dan dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh para penerima manfaat (mustahik).
Mengukur Narasi Dampak Program
Pengukuran keberhasilan program kini tidak hanya berhenti pada laporan keuangan tahunan. Lazismu Sragen mulai menyusun narasi secara terperinci mengenai output, income, hingga perubahan sosial yang tercipta di tengah masyarakat. Langkah ini menjadi kunci penting untuk menjaga tingkat kepercayaan publik dan muzaki secara berkelanjutan.
“Ketika ingin melihat program yang berdampak, kita lihat program sebelumnya yang sudah berjalan. Mulai dinarasikan output, income, dan dampaknya,” ujar Wakil Ketua Tengah Pengurus Lazismu Jawa Tengah, Ikhwanushoffa.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pencatatan terhadap dinamika yang terjadi di lapangan selama proses penyaluran bantuan. Berbagai temuan di luar rencana awal yang bernilai positif perlu didokumentasikan dengan baik. Hal tersebut dapat menjadi bahan evaluasi penting untuk penyempurnaan program mendatang.
Integritas dan Tata Kelola Keuangan
Di sisi lain, transparansi dana zakat Lazismu juga terus diperketat dari segi tata kelola keuangan internal. Pimpinan menekankan agar seluruh amil memahami batas kewenangan dalam penggunaan dana umat. Langkah ketat ini diambil untuk menjamin akuntabilitas serta mematuhi aturan audit keuangan syariah.
Pengelola zakat diimbau untuk tidak melakukan praktik manipulasi sekecil apa pun dalam operasional harian. Kedisiplinan dan integritas amil menjadi fondasi utama agar pelayanan masyarakat dapat berjalan amanah.
“Jangan mencoba-coba untuk korupsi sekecil memanipulasi nota. Karena jika keterusan, jatuhnya akan fraud,” tegas Ikhwanushoffa.
Edukasi dan Keberlanjutan Pelayanan
Upaya penguatan literasi dan edukasi masyarakat terkait zakat, infak, dan sedekah juga menjadi fokus yang terus digencarkan. Lazismu mendorong amil untuk aktif mengambil kesempatan bersosialisasi di berbagai forum publik. Pendekatan langsung (canvassing) dianggap sebagai strategi efektif agar keberadaan lembaga zakat makin dikenal luas oleh masyarakat.
Melalui kombinasi ide yang inovatif, eksekusi yang tepat, dan evaluasi konsisten, pelayanan bagi umat diharapkan makin optimal. Nilai-nilai kesabaran dan ketulusan dalam bertugas menjadi landasan utama bagi para amil. Dengan demikian, dana yang dihimpun dapat terus menghadirkan kebermanfaatan yang nyata bagi publik.
Baca artikel terbaru kami
Krisis Air Bersih Sragen Meluas, 64 KK di Tangen Kesulitan Air dan Lumpuh Pertanian