KEDAWUNG — Pengelola Green Village Muhammadiyah Sragen menginisiasi inovasi tumpang sari penenman semangka di atas lahan penenaman pohon kelengkeng di tanah wakaf kawasan Kedawung untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dalam kurun 2–3 bulan.
Inovasi tumpang sari semangka ini digagas untuk mengoptimalkan potensi green village penanaman kelengkeng yang masih menunggu masa panen 1-2 tahun. Pengelola memanfaatkan masa tumbuh tanaman utama agar lahan langsung menghasilkan nilai ekonomi tinggi dalam jangka pendek.
“Untuk penanaman bibit kelengkeng itu harus menunggu kisaran 1–2 tahun hingga berbuah. Agar lahan tetap produktif, jajaran program mengusulkan ditanami semangka yang masa panennya hanya 2–3 bulan,” ujar pihak terkait Green Village Muhammadiyah Sragen.
Inovasi Wakaf Pertanian dan Pemberdayaan Warga
Strategi tumpang sari semangka di lahan kebun kelengkeng ini tidak hanya mengoptimalkan efisiensi lahan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar Kecamatan Kedawung. Hasil panen semangka siap menyokong operasional pengelolaan kebun kelengkeng sebelum memasuki masa panen raya.
Lahan yang digunakan dalam pilot project ini merupakan tanah wakaf milik Sekretaris Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedawung. Pengelolaan kebun melibatkan kolaborasi lintas lembaga, seperti PDM Sragen, Lazismu, MPM, LPCR, MPKSDI, MLH, serta pemerintah kecamatan setempat.
“Target utama yang ingin dicapai adalah mengubah lahan wakaf menjadi lebih produktif. Pembukaan lahan ini sekaligus membentangkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat,” kata pihak terkait Green Village.
Hasil Panen Berkelanjutan untuk Kemaslahatan Umat
Skema hasil panen dirancang secara transparan melalui sistem bagi hasil 60 persen untuk pengelola Green Village dan 40 persen untuk pemilik lahan. Pendapatan dari budidaya kelengkeng sragen maupun semangka ini nantinya dialokasikan untuk menyokong kegiatan dakwah, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan.
Meski demikian, pengelola menghadapi tantangan ketersediaan sumber air karena program dimulai pada peralihan musim hujan ke musim kemarau. Untuk sementara, perawatan tanaman menyedot air dari sumur milik warga sekitar sambil mempersiapkan infrastruktur mandiri.
“Harapannya program berjalan dengan baik sehingga banyak masyarakat yang merasakan dampak kebaikan dari program green village muhammadiyah sragen ini,” penjelasan pengelola Green Village.
Baca artikel terbaru :
Lazismu PKU Muhammadiyah Sragen Salurkan 49 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan